Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Omongin PHK,…

leave a comment »

PHK kapan saja siap

Tanda-tanda perusahaan mau tutup biasanya sudah terlihat sebelum akhirnya benar-benar tutup. Mungkin, perusahaannya tidak tutup, tetapi melakukan perampingan jumlah pegawai. Misalkan Anda termasuk yang akan diPHK, bagaimana agar kapan saja akan diPHK, Anda siap.
===

Beberapa perusahaan sebelum tutup memberi pengumuman lebih dulu sebelumnya. Tetapi ada juga perusahaan yang tiba-tiba melakukan pemecatan tanpa peringatan sama sekali. Sehingga kita tak punya banyak kesempatan untuk mempersiapkan diri dan mencari pekerjaan baru.

Siapapun tentu marah juga kecewa, jika diputus hubungan kerja, termasuk Pulung. Walaupun Pulung dipecat secara terhormat dan tidak melakukan kesalahan apapun karena perusahaan bangkrut. Tetap saja ia bingung nanti harus bagaimana? Apalagi ia sudah berkeluarga, anak istri butuh biaya untuk makan sehari-hari, bayar kontrakan dan kebutuhan lain.

Setelah diPHK, Pulung mendapatkan sejumlah uang seperti dana pensiun, dana jamsostek, dan pesangon. Di masa mencari pekerjaan lagi, Pulung dan keluarganya memang masih bisa survive dengan sisa uang tabungan dan pesangon yang diterimanya ini. Tetapi tetap saja ada kekuatiran kapan ia bisa mendapat pekerjaan lagi. Karena ia sudah berumur dan berkeluarga, jarang sekali perusahaan mau menerima orang seperti dirinya.

Siapkan dana cadangan dari sekarang

Pulung meskipun ketiban pulung masih cukup beruntung karena ia sempat menabung. Pulung setiap bulannya masih bisa sedikit menabung. Dengan kata lain Pulung punya dana emergensi. “Maka ada baiknya kita pun perlu mempersiapkan dana cadangan atau dana emergensi dari sekarang. Jika sewaktu-waktu butuh dana tak terduga dan cukup besar tidak kebingungan,”ujar Roy Sembel salah seorang ahli ekonomi keuangan.

Tujuan dana emergensi tidak hanya untuk persiapan PHK, tetapi juga untuk keperluan mendadak lainnya, seperti biaya rumah sakit, atau biaya untuk pemakaman yang kita tidak tahu kapan biaya itu akan dikeluarkan. Dengan adanya dana cadangan membuat kita tidak kesulitan untuk membiayai pengeluaran yang sifatnya darurat, dan membiayai dana tidak rutin lainnya.

Menabung memang susah-susah gampang. Kalau tidak sering lupa, tabungan justru sering diambil atau malah jumlah uang yang ditabung terlalu sedikit. Dana cadangan baiknya disimpan di tempat yang aman, mudah diambil dan tidak membuat kehilangan nilai pokok investasi. Contohnya, deposito berjangka, reksa dana pasar uang, obligasi pemerintah, sertifikat bank indonesia, juga tabungan biasa.

Berapa jumlah yang sebaiknya ditabung untuk dana emergensi, Sembel memberi patokan dengan perhitungan 3-5 kali dari pengeluaran bulanan. Misalkan gaji kita Rp5 juta, pengeluaran bulanannya mencapai Rp3 juta. Sisa gaji kita ada Rp2 juta. Nah, dari sisa gaji ini diusahakan untuk terus ditabung. Sampai jumlahnya mencapai 3-5 kali pengeluaran bulanan kita yakni Rp15 juta.

Dana ini disimpan di deposito. Atau tabungan berjangka pendek yang sewaktu-waktu mudah diambil. Tabungan emergensi ini dipakai hanya untuk keperluan khusus, bukan untuk konsumsi atau kebutuhan sehari-hari termasuk rekreasi. Jika dana emergensi sudah terkumpul, barulah memulai menabung lagi untuk investasi lain. Dana emergensi ini diusahakan selalu tersedia tidak berkurang tetapi boleh berlebih.

Selain mengelola keuangan untuk emergensi. Lanjut Sembel, perlu didukung pola atau gaya hidup yang sesuai dengan kebutuhan. Singkatnya, membiasakan pola hidup hemat dan pengeluaran memang hanya untuk yang perlu-perlu saja. Bukan memenuhi keinginan yang belum tentu menjadi kebutuhan.

Menyiapkan dana emergensi tak harus kondisi keuangan Anda sudah stabil dengan karir yang baik dan gaji tinggi. Memang, berinvestasi untuk dana cadangan tidak terlalu menarik. Sebab tidak membuat Anda kaya tetapi juga tidak membuat miskin. Karena yang dicari dari dana cadangan adalah bukan return investasinya, tetapi bagaimana agar simpanan kita bisa kembali utuh.

Terus kembangkan diri

Dunia kerja berkembang terus. Pekerjanya juga dituntut lebih. “Kita perlu terus mengembangkan diri, termasuk skill dan kemampuan kita. Bisa dengan sekolah lagi, ikut beberapa training, atau mengambil sertifikasi untuk profesi tertentu,”jelas Roy. Dengan terus mengembangkan diri, seseorang akan punya nilai tinggi. Ibaratnya handphone canggih, punya fitur banyak di dalamnya dan serba bisa. Jika suatu ketika kena PHK seperti Pulung, tidak kebingungan lagi mencari pekerjaan, karena punya sertifikasi atau sudah punya keterampilan lain yang bisa diterima di tempat lain. Contohnya, seorang fotografer tak hanya bisa memotret tetapi ia juga mengasah keterampilan lainnya untuk menjadi kameramen televisi dan punya sertifikat. Ketika diPHK menjadi fotografer, mau mendaftar ke stasiun televisi atau production house kesempatannya bisa lebih terbuka.

Menurut Sembel, pekerja kantoran tak seharusnya terlena hanya pada pendapatan yang diperolehnya setiap bulan dari kantornya. Sebab, masih ada peluang lain yang masih bisa diraih. Dengan kata lain, masih ada penghasilan lain di luar gaji. Soal gaji kita sekarang cukup atau tidak, itu urusan lain. Pokoknya, bagaimana kita bisa menambah penghasilan.

Jika dana sudah terkumpul, cobalah investasi lain, waralaba misalnya. Atau yang bukan waralaba (usaha sendiri) setelah perencanaan yang matang tentunya. “Tetapi, kita harus menyediakan dana investasinya dulu. Jangan langsung uang untuk makan bulanan kita pakai untuk investasi. Bisa mati konyol kita,” ujar Sembel. Untuk berinvestasi, ada langkah-langkah yang perlu dijalani. Pertama disiplin menabung. Paling tidak, 10% atau 20% gaji kita sisihkan untuk ditabung. Jika 1 – 2 tahun dana sudah terkumpul, mulailah berhitung. Sembari menabung, kita bisa menimbang-nimbang investasi apa yang bakal kita pilih. Sembel mengingatkan untuk tidak langsung tergiur pada investasi yang sifatnya instan di depan mata. Sebab, yang instan itu biasanya fatal dan berumur pendek.

Perencanaan berinvestasi penting artinya. Jika sudah ada perencanaan, perlu mencari tahu dan mencari kesempatan bisnis apa yang cocok buat kita. Pertimbangkan juga baik-buruknya bisnis yang kita pilih. Ada patokan yang diberikan Sembel. Rumusnya, WISDOM. W adalah watak. Coba kenali dan kuasai potensi diri dan lingkungan saat ini. I, ingin. Tentukan tujuan atau masa depan yang kita inginkan. S, siasat. Kita perlu merancang strategi atau siasat untuk mencapai tujuan itu. D, didik, tingkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. O, otak/otot. Kita melakukan strategi dengan kerja cerdas (otak) dan kerja keras (otot). Yang terakhir, M, manajemen, monitor, dan measure. Maksudnya, kita mengelola sumberdaya yang kita punyai, dan setelah berjalan bisnisnya, kita tetap melakukan monitor pencapaiannya.

Kalau modal memang jadi kendala, kita bisa memulai usaha yang tanpa modal. Broker misalnya, memang kita harus punya koleksi relasi dulu. Mulai dari sekarang bisa dimulai. Ada gunanya punya jaringan pertemanan dan relasi yang luas. Jika mendapatkan relasi baru atau kartu nama, dicermati dan digali dengan seksama profesi-profesi relasi kita sebelumnya. Jika ada yang saling membutuhkan, kita bisa berperan sebagai perantara atau brokernya.

Kalau sudah punya dana emergensi, sambil terus mengembangkan diri, juga punya investasi atau pendapatan lain, PHK kapan saja, siap deh!

inbok
Biarpun waralaba harus ulet dan jeli

Bisnis waralaba sedang marak, apa saja diwaralabakan. Dari kafe, resto, apotik, salon, travel, makanan, studio foto sampai program pendidikan. Biaya franchise juga bervariasi dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Kejelian memilih waralaba menjadi penting. Karena tidak semua waralaba benar-benar mendatangkan untung. Tak sedikit bisnis waralaba yang sebenarnya belum terbukti menguntungkan, citra dan mereknya juga belum kuat sudah buru-buru diwaralabakan. Karena pemiliknya ingin mengejar fee waralaba. Bagi yang ingin terjun ke waralaba ada baiknya untuk mengikuti saran WISDOM ala Roy Sembel.

Berbisnis waralaba memang berpotensi sukses lebih besar ketimbang membuka usaha sendiri. Karena waralaba memiliki sistem dan merek yang kuat. Agar sukses mengembangkan bisnis waralaba tetap dibutuhkan jiwa kewirausahaan. Tidak bisa setelah membuka usaha waralaba terus didiamkan saja otomatis dapat untung banyak. Sebab, dimana pun bisnis sering mengalami pasang surut. Sehingga butuh kemampuan mencari solusi kreatif yang sifatnya lokal. Singkatnya harus tetap ulet, lah.

contoh simulasi perhitungan waralaba studio foto Malibu 62 (sumber KONTAN)

Investasi awal:
1.franchise fee Rp.30.000.000
2.alat fotografi Rp.53.500.000
3.background/foto-foto interior Rp.38.500.000
4.pelatihan fotografi Rp.6.750.000
5.renovasi tempat Rp.10.000.000
———————-+
Total investasi awal Rp. 138.750.000
sewa ruko per tahun Rp.25.000.000
———————–+
Total modal minimal di awal Rp.163.750.000

Perkiraan pendapatan per bulan Rp.20.000.000

Perkiraan biaya per bulan
1. bahan baku cuci cetak Rp.5.166.000
2.gaji 3 karyawan Rp.3000.000
3. biaya sewa kostum Rp.2000.000
4.listrik dan telepon Rp.500.000
5.biaya tata rias Rp.600.000
6. royalti waralaba (6% dari omzet) Rp.1.200.000
——————–+
Total biaya per bulan Rp.12.550.000

Perhitungan laba bersih:
Rp20 juta – Rp12.55 juta = Rp7.450.000

Kembali modal:Rp138.75 juta dibagi Rp7.45 juta per bulan = 18.6 bulan

Powered by ScribeFire.

Written by wijoseno

June 7, 2007 at 6:02 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: