Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Harry Potter

leave a comment »

Sihir Harry Potter Tidak Mempan di Indonesia
Oleh: A. Bimo Wijoseno

Penulis: A Bimo Wijoseno

Kehebohan Harry Potter (HP) serta kekhawatiran pengaruh sihir pada perkembangan anak-anak mengundang seorang dosen Sastra Inggris Universitas Maranatha Bandung buat mengkajinya. Hasilnya gelar master pun diraih sang dosen selain tentu hasil penelitian yang berguna.
————
Buku-buku HP karangan J.K. Rowling memang fenomenal. Sejak edisi pertamanya hingga sekarang saja sudah terjual lebih dari 300 juta kopi. Selain itu, buku HP juga sudah diterjemahkan ke dalam 63 bahasa dan sekitar 200 negara sudah terkena “sihir” si Harry Potter ini.
Namun, justru sihir itulah yang bikin perkara. Banyak kalangan religius konservatif di beberapa negara bagian Amerika Serikat, seperti Colorado, Kansas, Nebraska, dan 17 negara bagian lainnya melayangkan protes. Isi buku HP dianggap mengajarkan ajaran sesat dan membuat orang percaya pada kekuatan setan, lewat sihir. Sebagai antisipasinya dan wujud protes, buku HP dibakar, tidak boleh dibaca anak-anak, dan juga tidak boleh masuk ke perpustakaan.
Anehnya, di Indonesia malah aman-aman saja. Tidak ada pencekalan buku Harry Potter. “Pembaca Indonesia tampaknya tidak terpengaruh sama sekali dengan isu ini. Walaupun, bukan berarti mereka tidak tahu isu ini,” terang Hianly Muljadi. Soal cekal-mencekal inilah yang menarik perhatian Hianly untuk diteliti dan dijadikan tesis magisternya di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Hati-hati edisi ke-6
Sebelum ngomong soal penelitiannya, Hianly bercerita bagaimana ia pun kesengsem dengan buku-buku HP. “Saya memang suka HP dan mengikuti dari awal,” ucapnya antusias menjawab mengapa ia memilih meneliti fenomena HP. Pertama kali ia membaca novel HP yang berbahasa Indonesia, hadiah ulang tahun dari seorang kawan. “Buku novel ini menyenangkan. Bercerita tentang sihir. Yakni seorang anak yang bisa sihir tetapi ia sendiri tidak tahu kalau memiliki kemampuan itu. Ketika membacanya saya terhanyut dan bisa membayangkan dunia sihir itu sebagai suatu pengalaman yang berbeda. JK. Rowling pintar sekali membuat pembacanya bisa merasakan seperti yang dialami Harry Potter,” papar Hianly.
Kata Hianly lagi, “Saya senang dengan tokoh HP yang bukan anak baik-baik banget. Ia seperti anak biasa. Yang bisa marah atau kesal dan menjengkelkan. Bahkan, saya sempat kesal dengan HP ketika ia begitu emosional di edisi ke-5. HP bukan tokoh yang sempurna sekali, ia seperti anak-anak biasa dan alami.
Tidak ketinggalan untuk edisi HP yang ke-6 ini Hianly juga sudah membacanya. Menurutnya, untuk HP edisi ke-6 dilihat secara fisik, masih tergolong tebal. Tidak berbeda jauh dengan edisi-edisi sebelumnya. Uniknya, soal ketebalan buku tidak menghalangi pecinta HP untuk melahap habis membacanya. Bahkan, sampai ada yang menyediakan waktu khusus untuk melampiaskan rasa penasarannya.
“Dulu dalam sehari saya bisa baca HP sampai tamat. Tetapi karena sekarang ada tanggung jawab pekerjaan, buku HP ke-6 ini baru selesai saya baca lebih dari 2 atau 3 hari,” ujar dosen yang juga ketua jurusan Fakultas Sastra Inggris univ. Maranatha, Bandung ini. Menurutnya, kalau untuk anak-anak di bawah umur 10 tahun tentu kesulitan dengan ketebalan HP. Tetapi tampaknya, meskipun buku ini untuk anak-anak malah lebih sering dibaca oleh remaja dan orang dewasa. Soal ketebalan buat pecinta HP rasanya tak jadi soal.
Bagaimana isi ceritanya HP keenam? “Baca saja sendiri ya. Nanti tidak seru lagi,” elak istri dari Wintarko Gunawan ini. Namun kalau melihat isinya secara sekilas, menurut Hianly, edisi ke 6 ini mulai suram jalan ceritanya, sepertinya perlu bimbingan juga buat anak-anak yang belum paham. Bagi remaja jalan cerita demikian tidak jadi persoalan. “Tetapi di edisi ini ada yang saya tidak suka. Saya benci Prof. Snape. Karena dia membunuh Dumbledore kepala sekolah sihir Hogwarts,” ucapnya dengan nada kesal.

Sihir dari iblis
Dalam penelitiannya yang bersifat kualitatif dan studi kasus ini, Hianly menjaring 22 responden yang didapat dari mailing list (milis) pasarbuku@yahoogroups.com dan diskusinovel@yahoogroups.com. Alasan pemilihan responden dari anggota dua milis ini, menurut Hianly, diasumsikan anggotanya adalah orang-orang dewasa dan bisa mengeluarkan pendapatnya dengan leluasa. Walaupun buku HP ditujukan untuk anak-anak, tetapi fokus dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana elemen sihir dimaknai oleh pembaca serial HP ini.
Dari mengidentifikasi dan mengklasifikasikan responsi pembaca dewasa buku HP di Indonesia, responden terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok pecinta HP yakni responden yang menyukai HP, yang menganggap bahwa sihir dalam HP tidak memiliki pengaruh buruk pada pembacanya, serta menolak pelarangan terhadap serial HP. Kedua, kelompok pembenci HP yakni responden yang tidak menyukai HP, yang menganggap sihir dalam HP memiliki pengaruh buruk terhadap pembacanya, dan mendukung pelarangan serial HP. Ketiga, kelompok ambivalent, yakni responden yang menyetujui salah satu dari dua kelompok di atas, tetapi dengan beberapa pengecualian yang membuat mereka tidak termasuk dalam kelompok pecinta atau pembenci HP.
Kemudian Hianly menganalisis ideologi yang melatarbelakangi respon para pembaca ini. Definisi ideologi yang dipakai dalam penelitian ini adalah yang dikemukakan Jhon Storey dan Roland Barthes. Ideologi menurut Storey, mengacu pada apa yang disebut sebagai “bentuk-bentuk ideologis”, yakni cara berbagai teks (bisa film, lagu, karya fiksi, dll) menghadirkan suatu citra dunia yang tertentu. Setiap bentuk ideologis berupaya menghasilkan simpati masyarakat sehingga “melihat” dunia seperti yang diinginkannya. Sedangkan menurut Barthes, ideologi berada dalam tatanan konotasi. Ideologi atau mitos menurut istilah Barthes, menjadi tempat terjadinya pergulatan hegemonik untuk membatasi konotasi, membentuk konotasi tertentu, dan menghasilkan konotasi baru. Wuih, teorinya sulit dimengerti ya?
Ringkasnya kira-kira begini, kata Hianly, HP sebagai sebuah teks menghadirkan citra dunia tertentu (imajinasi pengarangnya) dan membuat masyarakat (pembaca) melihat dunia seperti yang dihadirkannya. Nah, penelitian ini menganalisis bagaimana respon atau reaksi pembaca terhadap sihir dalam serial HP.
Kelompok pembenci HP yang terdiri atas lima responden dan kebetulan respondennya penganut Kristiani, jawabannya seragam dan mengandung nuansa Kristiani yang kental dengan mengutip ayat-ayat Alkitab. Kesimpulan dari reaksi mereka ini adalah sihir berasal dari iblis, dan karena HP menceriterakan tentang sihir, maka HP tentunya berasal dari iblis sehingga berpengaruh buruk pada pembacanya. Mereka ini secara tegas dan lugas menolak HP, meskipun mereka belum pernah membaca serial HP sama sekali. Dari respon ketiga kelompok ini, tampak jelas bahwa kelompok pembenci HP berdasarkan ideologi agama.

Tidak nyata
Sedangkan respon dari kelompok pecinta HP yang terdiri dari 16 responden, mengatakan kalau sihir dalam serial HP tidak berpengaruh buruk terhadap pembacanya. Sebab HP hanyalah imajinasi pengarang saja. Lagipula masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan hal-hal yang berbau mistik (atau folklor). Folklor terdiri atas legenda, cerita rakyat dan juga mitos yang ada di masyarakat mengungkapkan bagaimana cara berfikir masyarakat tempat folklor itu beredar. Menurut mereka hal ini yang membuat isu pencekalan serial HP di Indonesia tidak merebak termasuk di Eropa yang kaya akan folklor. Kekhawatiran bahwa sihir HP bisa berpengaruh pada anak-anak menurut mereka dapat dihindari dengan peranan orang tua untuk membimbing atau menjelaskannya kepada anak-anak.
Sisanya kelompok ambivalent yang terdiri atas dua orang punya pendapat lain. Keduanya percaya akan pengaruh buruk sihir dalam serial HP, tetapi uniknya mereka tetap menyukai buku ini dan membacanya. Dalam proses membaca buku serial HP, keduanya merasa tidak ada pengaruh apapun pada diri mereka. Soal pencekalan, di antara mereka ada yang setuju tetapi ada juga yang tidak setuju. Yang tidak setuju HP dicekal tetap mengakui kalau HP mengandung “bahaya” jika dibaca oleh pembaca yang tidak “berpengalaman”, karena sihir HP ia percayai berasal dari iblis.
Hianly juga memetakan ideologi dari sisi produsen HP yang dianalis dari preferred meaning yang ditampilkan kepada pembaca. J.K. Rowling sendiri sebagai pengarang memiliki preferred meaning yang berbeda dengan pihak penerbit dan produser HP. Secara tegas J.K Rowling menyatakan bahwa sihir dalam HP sama sekali tidak nyata. Sehingga, tidak mungkin HP bisa membawa pengaruh buruk pada pembacanya.
Sementara dari pihak penerbit serta produser film HP tidak membantah tuduhan yang dilontarkan kaum religius. Dilihat dari bermacam bentuk promosinya, pihak penerbit sengaja menciptakan atmosfer yang memberikan gambaran bahwa dunia ini memang terbagi atas dunia nyata dan dunia sihir.
Dalam perkembangannya, menurut Hianly, Rowling mempunyai sikap ambivalent dalam menyikapi kebijakan penerbit dan produser film HP. Partisipasi Rowling dalam kegiatan promosi yang diadakan penerbit dan produser bertentangan dengan apa yang dikatakannya mengenai sihir HP. Maklum saja, suasananya sudah tercium bau uangnya alias sudah ditunggangi ideologi kapitalisme. Produser dan penerbit HP mengembangkan preferred meaning yang disesuaikan dengan kehendak para penggemar HP.
Dari hasil penelitian selama enam bulan ini, Hianly menarik kesimpulan bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan satu tafsir yang seragam terhadap sebuah teks, seperti sama tidak mungkinnya untuk menemukan satu ideologi yang terunggul yang bisa mengakomodasi semua tafsir yang ada dalam benak pembaca.
Gampangnya, sih, sihir tidak mempan di sini. Lagipula, semua itu berpulang dan tergantung pada pribadi dan ideologi masing-masing dalam menafsirkan apa yang dibacanya.
Oh, gitu ….

Powered by ScribeFire.

Written by wijoseno

August 2, 2007 at 7:26 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: