Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Pengungsi

leave a comment »

Mimpi Ribuan Kilometer Menuju Tanah Harapan
Oleh: Thomas Tjahjo Widyasmoro

Penulis: T. Tjahjo Widyasmoro & A. Bimo Wijoseno

Akibat perlakuan sewenang-wenang, setiap tahun ribuan orang terpaksa pergi ribuan kilometer meninggalkan tanah kelahirannya, sebagai pengungsi. Negeri kita jadi salah satu persinggahan sementara sebelum mereka melangkah ke tanah harapan. Di antara kekerasan dan luka yang mengoyak hidup mereka, masih adakah mimpi-mimpi tentang masa depan?
————–

Jika dipandang sekilas, wajah dan perawakan Qiu Bai tak berbeda dengan pria warga negara Indonesia keturunan Tionghoa umumnya. Bermata sipit, berkulit kuning, rambut lurus, dengan sedikit jenggot yang tumbuh di dagu. Tapi ketika diajak berbicara, maka pria berusia 31 tahun yang terlihat jauh lebih muda dari usianya ini, ternyata tidak bisa berbicara bahasa Indonesia sepatah kata pun. Ia memang baru baru tiga bulan di negeri kita.
Ditemui di suatu tempat di kawasan Pesing, Jakarta Barat, pria asal Shan Dong, Provinsi Jinan, Republik Rakyat Cina (RRC) ini juga cenderung berbicara perlahan, walau kalimat-kalimatnya tetap terdengar runtut. Sesekali pandangannya menerawang gundah, ketika harus mengingat berbagai kilasan peristiwa pahit dalam sejarah hidupnya. Sorot ketidakpastian juga terpancar di matanya, jika disinggung tentang rencana-rencana di masa depan.
Berstatus sebagai pengungsi di bawah perindungan Badan PBB untuk Masalah Pengungsi (UNHCR), Qiu Bai dan 62 pengungsi lain yang saat ini tinggal di Indonesia, memang hanya bisa bersabar menanti negara yang mau menerima mereka sebagai warganya. Mereka berharap satu dari negara-negara Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada akan bersedia menerima mereka sebagai warga negara. Namun penantian itu tidaklah pasti. Bisa dalam sebulan, setahun, atau bertahun-tahun.
“Saya cuma bisa pasrah menunggu berapapun lamanya. Kalau pulang ke Cina, tidak mungkin. Bisa-bisa nanti saya akan mati dibunuh,” tutur pria yang masih melajang ini dengan nada lirih.

Sering teler
Perjalanan hidup Qiu Bai di masa lalu memang cukup memilukan. Kemerdekaan hidupnya berulangkali terampas karena tiga kali masuk penjara tanpa tuduhan yang jelas. Di luar penjara, aparat pemerintah juga mengawasi gerak-geriknya. Ia harus membuat laporan jadwal harian dan rutin melaporkannya kepada polisi. Siksaan batin terberat adalah bayang-bayang kematian, yang baginya terasa begitu dekat.
Jika ditanya, pria bertubuh sedikit gemuk ini tidak bisa menjelaskan tindakan yang telah membuat hidupnya begitu sengsara. Satu “kesalahan” yang pernah dibuat dalam hidup Qiu Bai adalah menjadi praktisi Falun Gong (baca: falun kung) sebuah kelompok aktivitas spiritual yang berakar dari Konfusianisme, Budhisme, dan Taoisme.
Sejak Pemerintah RRC menyatakan Falun Gong sebagai aliran sesat, Qiu Bai beserta jutaan praktisi lain harus hidup diburu rasa takut. Tak sedikit yang kemudian dipenjara karena nekat berteguh pada keyakinannya. Beberapa gelintir orang yang beruntung, berhasil melarikan diri ke luar negeri sebagai pengungsi.
Semula Qiu Bai tidak pernah berpikir, aktivitas Falun Gong yang diikutinya sejak 1996 bakal menjadi awal petaka. Yang diyakininya, Falun Gong telah mengembalikan hidupnya yang berantakan di masa muda. Pada usia belasan, ia sudah mencandu alkohol dan rokok. Pulang larut malam dari bar dalam keadaan teler jadi aktivitas hariannya. “Hidup saya kacau, malah jiwa saya terasa kosong,” tutur pria yang berlatar pendidikan ilmu fotografi ini.
Tapi berkat latihan pernapasan dan meditasi yang kemudian rutin dilakukannya melalui Falun Gong, berangsur-angsur Qiu Bai merasa lebih sehat. Pikiran juga terasa jernih, sehingga hubungan dengan orang lain, termasuk orangtuanya, dirasakan semakin baik. Ternyata kesaksian serupa juga diungkapkan teman-teman, tetangga, termasuk keluarganya. Kebetulan seluruh keluarganya juga ikut berlatih, bahkan rumah tempat tinggal mereka dijadikan tempat latihan.
Pada dekade 1990-an, pemunculan Falun Gong yang berfalsafahkan “Baik, Sejati, dan Sabar”, memang seolah mengguncang negeri tirai bambu. Adalah Li Hongzi, seorang praktisi spiritual yang kemudian dijadikan guru besar Falun Gong, yang memperkenalkannya pada 1992 melalui qiqong. Sebuah seni latihan pernapasan yang berakar dari budaya China berabad-abad lalu.
Latihan-latihan Falun Gong yang sederhana dan mudah dilakukan banyak orang, ternyata digemari dan meluas ke seluruh negeri. Hanya dalam lima tahun, praktisi Falun Gong di RRC diperkirakan mencapai 60 – 70 juta orang. Bahkan gerakan ini juga meluas hingga 70 negara, termasuk Indonesia.
Tapi masa-masa manis madu itu harus berakhir ketika tiba-tiba pemerintah RRC mengumumkan larangan terhadap aktivitas Falun Gong pada 20 Juli 1999. Bagi para praktisi, sikap pemerintah amat membingungkan, lantaran sebelumnya aktivitas mereka diterima terbuka, bahkan pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sendiri. Apalagi organisasi ini sama sekali tidak berpolitik, yang mungkin ditakutkan dapat mengancam keberadaan Partai Komunis Cina.
Dalam bermacam publikasi yang dikeluarkan praktisi Falun Gong di luar RRC digambarkan, tak sedikit praktisi yang kemudian ditangkap dan dipenjarakan karena tetap teguh mempertahankan keyakinannya. Bahkan bukan hanya direnggut kebebasannya, mereka juga disiksa agar mau melepaskan keyakinannya pada Falun Gong.
Jenis-jenis siksaan yang ditimpakan kepada tahanan sungguh sulit dibayangkan orang yang berada di luar penjara. Yang keji, seperti disetrum pada bagian-bagian tubuh tertentu sampai pingsan, disiram air mendidih, kuku ditusuk tusukan sate agar terkelupas, ditampar beruntun terus menerus oleh empat orang, atau tahanan wanita yang ditelanjangi lalu dimasukkan ke ruang tahanan khusus pemerkosa dan pembunuh.
Qiu Bai sendiri ditangkap setelah ketahuan saling bertukar kabar tentang kondisi Falun Gong di daerahnya lewat internet. Jalur internet di Cina memang tidak bebas. Selain diawasi, setiap data yang dibuka harus sepengetahuan aparat keamanan. Akibat tindakan nekatnya ini, Qiu Bai harus mendekam selama dua tahun penjara. Tuduhannya: merusak tatanan hukum dengan ajaran sesat.
Ia melukiskan, tidak ada yang lebih buruk dibanding hidup di sebuah ruangan kecil berukuran tak lebih dari 30 m2 yang berisi 20 tahanan. Semua aktivitas hidup sehari-hari dilewatkan di ruang sempit dan pengap, termasuk buang air. “Tidur berdesak-desakan, di mana di atas kepala kami adalah WC,” tuturnya tanpa memerinci lebih jauh. “Mengingatnya saja rasanya malas.”
Setelah pelarangan, hidup keluarganya menjadi tidak tenang. Rumah tempat tinggal Qiu Bai digeledah hingga enam kali. Barang-barang yang berkaitan dengan Falun Gong disita. Bahkan termasuk barang-barang pribadi seperti VCD, tape recorder, televisi, karena dianggap telah dipakai dalam latihan Falun Gong.
Menyadari situasi yang tidak menentu, ibu dan saudara perempuan Qiu Bai memutuskan pindah ke Kanada. Untuk sementara ia tidak bisa ikut karena masih harus diawasi aparat pemerintah. Apalagi ayahnya juga harus berkali-kali masuk penjara dan diawasi ketat oleh polisi. “Buat saya, situasi saat itu begitu buruk,” jelas Qiu Bai yang mengaku trauma dengan kekerasan.

Dicuri lalu dikremasi
Perlakuan keji terhadap narapidana Falun Gong dibenarkan Nie Ge, salah seorang praktisi Falun Gong yang kini juga berstatus pengungsi di Jakarta. Wanita berusia 51 tahun asal Kota Chang Chun di Provinsi Jilin ini menjadi saksi kekejaman saat tujuh kali ditahan polisi, dengan masa penahanan antara 2 – 3 minggu.
“Jika ada pimpinan, perlakuan mereka akan lebih kejam. Karena siksaan itu seperti sebuah pertunjukan kepada pimpinan saja,” tutur Nie Ge. Siksaan demi siksaan kadang membuat tahanan yang sedang diinterogasi nyaris meninggal. “Kalau sudah hampir mati, biasanya tahanan dikembalikan ke keluarga dalam keadaan tubuh hancur.”
Ternyata belakangan, nasib para narapidana praktisi Falun Gong dirasakan semakin buruk. Terutama setelah beredar kabar dugaan, organ tubuh para narapidana Falun Gong diambil untuk diperdagangkan atau transplantasi, seperti kornea mata, hati, dan ginjal. Dugaan ini memang sulit dibuktikan, karena arus informasi di negeri tirai bambu itu begitu tertutup. Bagi mereka yang terlibat atau mengetahui praktik keji ini, juga diancam untuk tidak membocorkannya.
Kebenaran sedikit terkuak dari hasil penyelidikan David Matas dan David Kilgour, dua pengacara HAM internasional dari Kanada, atas permintaan Koalisi Penyelidikan Penganiayaan Falun Gong di Cina (CIPFG) yang terdaftar di Washington DC. Keduanya melakukan penyelidikan lewat pengakuan beberapa orang yang tahu dan sudah berada di luar negeri, percakapan telepon ke sejumlah rumah sakit yang menawarkan organ, atau penelusuran data-data internet. Matas dan Kilgour tidak diizinkan masuk Cina oleh pemerintah RRC.
Laporan Matas dan Kilgour antara lain memuat pernyataan seorang istri dokter yang mengaku bahwa suaminya telah mengambil 2.000 kornea mata narapidana praktisi Falun Gong. Tidak satu pun “pendonor” kornea mata itu yang hidup saat dioperasi, karena organ tubuh lainnya juga sudah lebih hilang. Setelah semua proses operasi selesai, mayat lalu dikremasi.
Keluarga korban penganiayaan juga bersaksi, kondisi mayat para narapidana yang dinyatakan mati di penjara umumnya sudah tidak utuh lagi. Organ-organ tubuh tertentu sudah dicuri. Di dalam penjara, narapidana juga mengaku harus menjalani tes kesehatan berupa foto rontgen dan tes darah. Diduga, tes ini dilakukan untuk mengecek kondisi kesehatan dan keperluan kecocokan donor organ.
Dari sisi lain, ada fakta bahwa untuk mendapatkan organ tubuh untuk pencangkokan di Cina ternyata begitu gampang. Lewat situsnya di internet, sebuah institusi kesehatan bahkan pernah mengumumkan terang-terangan kalau pihaknya bisa mencarikan organ tubuh dalam waktu seminggu atau paling lama sebulan. Ajaibnya, ada semacam “garansi” jika seandainya terjadi ketidakcocokan organ, ditawarkan pilihan organ pengganti dengan operasi satu minggu kemudian.
Padahal di luar Cina, mendapatkan organ tubuh bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sebagai perbandingan, ungkap Matas, di Kanada saja dibutuhkan paling tidak antara 30 – 50 bulan untuk setiap pasien. “Karena pendonor organ tubuh berasal dari pendonor biasa, orang yang dihukum mati, atau yang sudah dinyatakan mati otak,” ujar Matas ketika berkunjung ke Jakarta, Oktober lalu.
Jika dihitung berdasarkan rata-rata operasi cangkok organ tubuh pertahun, antara tahun 2000 – 2005, atau setelah penindasan Falun Gong, di Cina terjadi peningkatan sebanyak 41.500. “Dari mana jumlah sebanyak itu?” Matas mempertanyakan. Ia yakin, gencarnya penawaran cangkok organ tubuh oleh sejumlah rumah sakit di Cina, bersumber dari narapidana Falun Gong. Konsumennya adalah pasien-pasien dari luar negeri, termasuk Indonesia, yang sebenarnya secara tidak sadar sudah memanfaatkan organ-organ tubuh curian ini.
Kabar adanya tindakan di luar batas kemanusiaan ini, jelas membuat kecut para praktisi Falun Gong yang bertahan di Cina. Mereka yang kebetulan memiliki paspor akhirnya mencoba lari ke luar negeri lewat berbagai cara, salah satunya menjadi turis. Qiu Bai dan Nie Ge, misalnya, memilih menuju ke Singapura dengan bantuan sanak saudaranya.
Meski sudah berada di luar Cina, nasib baik tak selalu berpihak ke mereka. Gara-gara getol berdemonstrasi di depan kedutaan Cina dan memberikan informasi ke khalayak tentang penindasan Falun Gong, Nie Ge harus berurusan dengan aparat keamanan Singapura. Ia sempat ditahan pihak imigrasi selama delapan jam dengan tuduhan tidak jelas.
Penangkapan ini ternyata berakibat fatal bagi wanita yang hidup sebatang kara sejak suami, ibu, dan beberapa familinya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas ini. Izin kerjanya di sebuah hotel yang masih berlaku dua tahun dicabut, lalu diminta meninggalkan negeri itu hanya dalam tujuh hari.
“Tidak ada yang bisa saya lakukan lagi, kecuali mengajukan diri menjadi pengungsi. Walau masa depan, malah menjadi tidak jelas,” kata Nie Ge yang meyakini adanya tekanan dari pemerintah RRC kepada Singapura atas peristiwa pengusiran dirinya.

Dipenjara sebagai jaminan
Dari sudut berbeda, cerita pilu akibat kekerasan juga dibawa para pengungsi asal Timur Tengah yang kini tinggal di kawasan Cisarua, Bogor. Di daerah berhawa sejuk pegunungan itu, mereka yang kebanyakan berasal dari Irak dan Afghanistan, seakan tengah menenangkan diri dari situasi peperangan yang telah memaksa mereka meninggalkan kampung halaman. Kekejaman, derita, desing peluru, dan tumpukan mayat, tinggal kenangan masa silam.
Kini wajah-wajah dari tanah Arab mulai tampak ceria dalam tawa canda. Meski jauh di lubuk hati mereka, masih sulit melupakan semua yang terjadi.
Ali Fleih (30) misalnya, masih begitu emosional kala bercerita tentang nasibnya yang terpuruk. Seiring berakhirnya Perang Teluk I, keluarganya yang kebetulan berseberangan secara politik dengan Presiden Saddam Husein, harus menanggung derita luar biasa. Empat dari delapan kakaknya telah dihukum mati tentara Saddam. Dalam kondisi perang, proses pengadilan dan cara-cara eksekusi hukuman mati, tentu saja diabaikan.
Dalam usia 14 tahun, Ali bahkan sudah mencicipi pengapnya penjara militer Irak. Meski ia tidak ikut-ikutan main politik, tapi tentara selalu menciduknya sebagai jaminan agar kakak-kakaknya menyerahkan diri atau jika sekadar ingin dikorek keterangannya. Keluar masuk penjara ini bisa berlangsung berkali-kali.
Puncak penderitaannya, Ali harus merasakan dua setengah tahun meringkuk di balik jeruji besi sebagai jaminan atas penyerahan diri kakaknya. Di sanalah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri segala bentuk kekejaman di luar akal sehat manusia. “Sampai saya tidak punya rasa takut lagi,” tutur pengungsi yang sudah tinggal di Indonesia selama tujuh tahun ini dengan enteng.
Seiring mundurnya Irak setelah gagal menginvasi Kuwait pada 1990, pemerintahan Saddam mengadakan pembersihan terhadap para pembangkang di seluruh negeri. Selama tiga minggu, terjadi pertempuran antara rakyat dan pasukan Saddam. Korban tewas tak terhitung lagi. Di kota Imarah, tempat kelahiran Ali yang waktu itu penduduknya 800.000 orang, dalam tiga hari ditemukan 11.000 korban pembantaian.
Bekas luka akibat kekejaman militer Irak, yang hingga kini masih membekas pada tubuh Ali, berupa bekas luka tembakan di tangan, betis, dan pantat. “Saya sempat pingsan karena kehabisan darah waktu tertembak,” kenangnya. Beruntung ada orang yang menolong dengan menyembunyikan tubuhnya di semak-semak kebun kurma.
Situasi penuh kekerasan ini yang mendorong sebagian besar rakyat Irak mengungsi ke negara-negara di sekitarnya dengan berjalan kaki. Para pengungsi ini harus benar-benar cermat rute perjalanan agar tidak menjadi sasaran tembak pasukan pemerintah. Atau sesekali harus menghindari dari incaran helikopter yang siap menjaring para pengungsi, mirip seperti menjaring ikan teri. Mayat-mayat korban kekerasan yang bergelimpangan di jalan tak menyurutkan langkah Ali dan 30.000 pengungsi lain menempuh 98 km menuju perbatasan Iran.
Ribuan pengungsi Irak inilah yang sekarang hidup terlunta-lunta di beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. Beberapa di antara mereka, bergabung dengan pengungsi negara lainnya, mencoba peruntungannya menggunakan perahu menuju Australia atau negara-negara Eropa. Rute menuju Negeri Kangguru melalui perairan Indonesia, menjadi tujuan favorit pengungsi Timur Tengah.
Sayangnya, tak sedikit di antara manusia perahu itu yang mengalami nasib naas. Banyak yang menjadi korban keganasan gelombang laut, gara-gara perahu yang kondisinya tak layak tapi dimuati banyak orang. Atau tak jarang, justru mendapat perlakuan yang kasar dari aparat keamanan negara-negara setempat.
Salah satu perahu yang sial, batal dinaiki Ali, pada Oktober 2001. “Saya terlambat datang satu hari. Katanya kapal itu juga sebenarnya sudah rusak,” jelasnya. Belakangan terdengar kabar, perahu itu tenggelam di perairan dekat Darwin Australia dan menewaskan 360 dewasa dan 160 anak. Dari korban-korban itu, 250 orang di antaranya adalah pengungsi Irak, sisanya dari Mesir dan Aljazair.

Ingin jadi WNI
Bagi para pengungsi Timur Tengah, menunggu kepastian negara yang mau menampung mereka, sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Terutama untuk melawan kebosanan dan ketidakpastian. Sehari-hari, aktivitas mereka diisi dengan mempelajari berbagai hal, sesekali berolahraga, tapi yang paling sering diisi kongkow-kongkow dengan sesama pengungsi.
Sebagai pengungsi, kegiatan mereka memang dibatasi peraturan resmi dari UNHCR maupun pemerintah Indonesia. Aturan utama dan yang dirasakan berat bagi pengungsi yaitu mereka tidak dapat bekerja secara resmi. Citra baik mereka di masayarakat juga harus dijaga dan tidak boleh berbuat kesalahan yang masuk kategori pelanggaran hukum. Jika ada secuil saja nilai buruk pada riwayat hidupnya, mereka akan semakin sulit mendapatkan negara yang mau menampung.
Celakanya, kata Ali dan sejumlah pengungsi lain, belakangan ini masa tunggu terasa semakin lama. Mereka menduga, penyebabnya adalah perubahan angin politik internasional, terutama setelah Amerika Serikay menyatakan perang terhadap terorisme.
Negara-negara tertentu, seperti Australia, juga mulai menseleksi ketat calon warga negaranya. Australia misalnya, hanya menerima pengungsi yang mempunyai hubungan darah dengan pengungsi sebelumnya yang sudah diangkat menjadi warga negara.
“Pasrah menunggu terus tak ada kepastian, kadang membuat kesal,” aku Hassan Sami (35), pengungsi asal Irak yang telah memasuki tahun keenam penantiannya. Ia mungkin masih bisa bersabar, tapi istri dan kedua anak perempuannya yang berusia 14 dan delapan tahun, terus menanyakan tentang akhir dari penantian panjang ini. “Kasihan anak-anak, pendidikannya tidak jelas. Suatu saat mereka juga harus menikah, padahal statusnya tidak jelas,” Hassan memelas.
Berbeda dengan pengungsi lain yang tetap bersikukuh menuju ke negara-negara makmur, karena kejenuhannya, Hassan bahkan sudah pasrah dan berharap bisa menjadi warga negara Indonesia saja. “Saya sudah kirim fax ke pemerintah, tapi belum ada jawaban,” tutur pria yang bersama keluarganya sudah berpindah-pindah dari Iran, Kuwait, Mesir, Turki, Suriah, dan Malaysia. Jika kepala sudah terasa penuh dengan aneka persoalan hidup, Hassan memilih mengurus ternak ayamnya.
Perasaan jenuh terasa wajar mengingat para pengungsi umumnya berusia produktif dan punya kemampuan profesional untuk bekerja. Hassan misalnya, semasa di Iran pernah mengelola sebuah pabrik sepatu dan restoran dengan puluhan pekerja. Seluruh usaha itu akhirnya terpaksa harus dilego karena pemerintah Iran mengeluarkan larangan bagi orang asing untuk berbisnis.
Sejumlah pengungsi lain juga memiliki beraneka keahlian seperti mekanik, komputer, bisnis, bahkan ada pula seorang dokter. Konon, ada beberapa perusahaan yang sebenarnya mau mempekerjakan mereka, tapi selalu mentok pada masalah identitas. Masalahnya, pengungsi tidak punya KTP, yang ada hanya surat pengungsi dari UNHCR.
Terhadap segala persoalan pengungsi, UNHCR tidak menutup mata. Lembaga PBB yang berkedudukan di Jakarta itu meminta Yayasan Pulih, sebuah LSM di Jakarta, untuk mendampingi para pengungsi. Yayasan ini pula yang menyelenggarakan sebuah pusat aktivitas pengungsi di sebuah rumah di Megamendung, Cisarua, Bogor. Di rumah tua yang disewa pertahun itu, terlihat seperangkat komputer dan meja pingpong untuk mengisi kegiatan para pengungsi.
Pusat aktivitas pengungsi juga menjadi tempat berkumpulnya sesama pengungsi sehari-hari. Mereka bercengkerama, mengobrol, atau bermain tenis meja. Melalui petugas yang datang tiga kali seminggu, Yayasan Pulih juga menghidupkan berbagai kegiatan seperti kursus bahasa Inggris, kursus bahasa ibu para pengungsi, atau kursus komputer. Pengajarnya sesama rekan pengungsi sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, UNHCR memberi tunjangan hidup untuk para pengungsi. Dana ini rutin diberikan perbulan yang jumlahnya menurut mereka, “Hanya cukup untuk 15 hari.” Sebagai penambal kekurangan, mereka mengaku saling meminjam uang antar sesama pengungsi. “Siapa yang punya akan meminjami,” jelas Hassan.
Ada pula beberapa hal yang disyukuri pengungsi, seperti misalnya masalah kesehatan. UNHCR bermitra dengan Palang Merah Indonesia untuk mengurusi kesehatan mereka. Jika ada yang sakit, mereka tinggal mendatangi rumah sakit yang dirujuk PMI dan tidak perlu membayar.

Disangka orang kaya
Berbeda dengan pengungsi Timur Tengah beberapa tahun lalu yang ditempatkan di sebuah penginapan khusus di sekitar Cisarua, kini para pengungsi lebih banyak tinggal membaur bersama masyarakat sekitar. Dengan uang bantuan UNHCR, mereka mengontrak rumah atau kos di bilik-bilik sederhana milik masyarakat.
Membaurnya pengungsi dengan masyarakat, memunculkan banyak cerita unik. Fisik mereka yang khas ras Arab dan sehari-hari selalu terlihat berpakaian necis, selalu menarik perhatian masyarakat di sekitar. Soal postur tubuh, mereka memang boleh bersaing dengan pria-pria lokal.
Cuma parahnya, menurut Ali, masyarakat di sekitar selalu memandang mereka sebagai orang kaya. Jika tidak cermat betul, pengungsi bisa saja dikerjain sewaktu belanja di warung. Atau kali lain, diminta bermacam sumbangan untuk desa. Padahal dompet benar-benar lagi bokek.
Yayasan Pulih menyadari betul, kehadiran pengungsi bisa mengakibatkan benturan budaya dengan masyarakat. Karenanya, pengungsi juga dibekali pengetahuan budaya dan tata cara kehidupan masyarakat sekitar, agar tidak muncul konflik. “Walau setiap ada keperluan dengan pihak manapun, selalu berhubungannya lewat kami,” tutur Suarni, petugas pendamping dari Yayasan Pulih.
Ada beberapa hal baru yang didapat pengungsi di negeri ini, Misalnya, baru mengerti arti kerja bakti, yang sebelumnya tak ada dalam budaya mereka. Rasa kesetiakawanan antar pengungsi dan warga sekitar sekitar juga tumbuh karena hidup senasib sepenanggungan di tanah asing. Sehari sebelum Intisari berkunjung contohnya, para pengungsi sempat menjadi pelopor dalam memadamkan api di rumah seorang warga yang terkena musibah kebakaran.
Akrabnya pergaulan dengan masyarakat, membuat pengungsi dapat memahami adat istiadat setempat yang ramah. Bahkan ada yang kemudian menjalin cinta dan menikahi warga sekitar, seperti Ali yang menikahi warga setempat dua tahun lalu. Tapi pasangan ini belum berencana untuk mempunyai anak. “Nanti saja kalau sudah ada negara yang mau menerima, baru punya anak,” katanya.
Pada masa penantian ini, selain dididik oleh sesama pengungsi, anak-anak juga dititipkan di sekolah-sekolah sekitar. Karena tumbuh sejak kecil, anak-anak bahkan cepat menyerap kata-kata dalam bahasa Indonesia, termasuk bahasa Sunda. Malah ada cerita, seorang anak pengungsi yang bersekolah SD, malah memperoleh nilai terbaik dibandingkan dengan teman-temannya sekelas dalam mata pelajaran Bahasa Sunda.
Nun di negeri asal mereka, perubahan politik telah terjadi menyusul jatuhnya pemerintahan Presiden Saddam Husein. Namun, kondisi ini ternyata tidak membuat mereka berniat kembali ke tanah kelahiran mereka. Beberapa waktu lalu, beberapa pengungsi sempat tergoda untuk kembali dan melepas status pengungsinya.
“Belakangan saya dengar situasi malah menjadi kacau,” kata Ali yang rajin mengikuti perkembangan negerinya melalui media massa.
Informasi tentang kampung halaman juga didapat dari sesama pengungsi di luar negeri. Dari sanak saudaranya, Hassan mendengar, beberapa pengungsi yang dulu tinggal di Inggris dan pulang, ternyata sekarang kembali mengungsi. “Ayah saya langsung pulang begitu mendengar Saddam jatuh. Tapi setelah tiga tahun, dia mengungsi lagi,” kata Hassan.
Kenyataan tadi semakin membulatkan tekad para pengungsi Irak untuk melupakan negeri dongeng 1001 malam itu. Tekad mereka, biarlah mimpi-mimpi indah akan mereka wujudkan di tanah air baru. Namun entah kapan mimpi itu menjadi kenyataan.

Powered by ScribeFire.

Written by wijoseno

August 2, 2007 at 7:21 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: