Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

thermal scan

leave a comment »

Thermal scan untuk tulang belakang
Oleh: A. Bimo Wijoseno

Dulu Nervoscoupe, Kini Thermal Scan

Oleh sebagian orang, chiropractic masih sering diidentikkan dengan penyembuhan “tangan kosong”. Padahal, seiring perkembangan teknologi kedokteran, alat-alat untuk memaksimalkan kerja chiropractor – begitu ahli chriropractic biasa disebut – pun makin banyak diciptakan. Salah satunya, thermal scan. Jadi, jangan lagi menganggap chiropractic sekadar terapi yang mengandalkan “keahlian” tangan belaka.

Thermal scan – nama lengkapnya jauh lebih keren, Insight Millenium Subluxation Station – bisa disebut sebagai salah satu perangkat paling mutakhir yang dibikin untuk membantu proses terapi tulang belakang. Khususnya untuk memeriksa fungsi dari sendi dan saraf yang bermasalah. Pada thermal scan, para ahli chiropractic menemukan sistem yang dapat menganalisis lebih canggih dan akurat, dengan mendeteksi perbedaan suhu saraf tulang belakang.
Bukan berarti sebelumnya tak ada alat yang diciptakan untuk “memata-matai sendi” dan saraf tulang belakang itu. Sebelum munculnya thermal scan, chiropractor melakukan analisis letak subluksasi (kemungkinan adanya saraf yang terjepit) dengan menggunakan perangkat yang biasa disebut nervoscope. Nervoscope ini sudah ada sejak 55 tahun yang lalu. Fungsi perangkat ini setali tiga uang dengan thermal scan, yakni untuk mengukur suhu saraf tulang belakang.
Namun secara fisik, nervoscope lebih mirip speedometer sepeda motor, dengan jarum penunjuk dan angka-angka pengukur. Dia mempunyai dua buah batang yang berdampingan untuk mengukur suhu. Dua batang nervoscope ini fungsinya kayak termometer, satu bertugas mengukur suhu saraf kiri dan satunya lagi untuk bagian kanan. Jika terdeteksi adanya kelainan, suhu kiri dan kanan akan berbeda. Sebaliknya, kalau suhunya sama, berarti tidak ada masalah.
“Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan dilengkapi dengan pembuluh darah, yang berfungsi sebagai termostat. Jika sistem saraf terganggu, otomatis juga akan menyebabkan termostatnya terganggu, sehingga terjadi penyampaian informasi suhu yang tidak sama antara kanan dan kiri tubuh,” chiropractor dr. Tinah buka suara, menjelaskan mengapa perbedaan suhu itu bisa terjadi.

Lebih mudah dan cepat
Setiap pasien yang baru pertama kali berobat ke klinik chiropractic mestinya akan langsung “bertatap muka” dengan nervoscope atau thermal scan. Maklum, pemeriksaan subluksasi termasuk bagian dari pemeriksaan awal buat mereka yang dicurigai mempunyai tulang belakang bermasalah. Dengan nervoscope, chiropractor akan memeriksa perbedaan suhu antara kanan dan kiri saraf tulang belakang. “Saat pemeriksaan kulit, pasien harus kering, tidak basah, apalagi berkeringat. Agar nervoscope dapat bekerja secara akurat,” jelas Dr. Tinah.
Belakangan, dengan munculnya thermal scan yang berteknologi lebih anyar, nervoscope sudah mulai ditinggalkan para terapis. Keunggulan thermal scan yang paling nyata, hasil pemeriksaannya dapat dilihat langsung di layar komputer. Sehingga terapis dan pasien bisa sama-sama tahu dan berdiskusi perihal masalah yang sedang dihadapi.
Berkat thermal scan pula, chiropractor dimudahkan dalam memastikan dan menganalisis masalah saraf pasien. Jika dengan nervoscope harus mengukur satu demi satu titik-titik saraf tulang belakang, dengan thermal scan cukup menggelindingkan alatnya di sepanjang tulang belakang. Di layar komputer, hasil scanning yang dilakukan akan tampak jelas dan detail, menunjukkan bagian-bagian mana saja dari tulang belakang pasien yang mengalami gangguan.
Selanjutnya, daerah yang mengalami gangguan ini diperbaiki dengan pijatan atau tekanan dengan jari. “Alat ini tidak hanya mendeteksi sakit di sekitar tubuh, namun juga bisa membantu mendeteksi asma, alergi, juga autisme,” imbuh dr. Tinah. Hal itu bisa diketahui dari saraf mana yang langsung menuju organ dalam tubuh. Kalau asma misalnya, tentu titik saraf yang menuju organ pernapasan menunjukkan ada tanda-tanda tidak beres. Semuanya bisa dianalisis dari grafik yang muncul di layar monitor.
Apakah pemeriksaan thermal scan menimbulkan rasa sakit? Dari pengalaman pasien selama ini, tidak sama sekali. Karena alat ini tidak memakai jarum, panas ataupun radiasi, sehingga aman digunakan untuk siapa saja. Lagipula, fungsi thermal scan hanya untuk mendeteksi informasi suhu dari susunan saraf tulang belakang. Tidak lebih, tak kurang.
Keunggulan lain, alat ini mampu mendeteksi fungsi susunan saraf tulang belakang yang tidak dapat terlihat dengan x-ray atau rontgen sekalipun. Ia juga aman digunakan oleh seluruh usia, tak peduli anak-anak atau orang dewasa, bahkan oleh wanita hamil.
Pendek kata, alat buatan Amerika Serikat ini sangat memudahkan kerja chiropractor dalam mencari subluksasi. Terapis cukup menggelindingkan alat pemindai di tulang belakang pasien, dengan waktu pemeriksaan tergolong singkat, cuma butuh sekitar 5 sampai 10 menit. Meski begitu, hasilnya dijamin tetap akurat, dibandingkan alat lain yang sejenis. Thermal scan pun praktis, karena nyaris tak perlu pencatatan. Semua sudah ada di monitor, tinggal dipelototin.
Jika hasil “melotot” menunjukkan ada warna merah di titik tertentu, berarti ada yang tidak beres pada titik tersebut. Kalau warnanya hijau, ya aman-aman saja. Tingkat keparahan dari ketidakberesan tadi juga bisa dilihat detail, karena ada prosentasenya.

Bisa Juga Mengamati Otot
Beberapa tahun terakhir, perkembangan chiropractic dan alat diagnosisnya terbilang pesat. Pasti tak seorang pun menyangka, jika pada awalnya, para terapis lebih banyak menggunakan tangan kosong sebagai alat pendeteksi gangguan tulang belakang. Setidaknya itu yang terjadi di era B.J Palmer, bapak chiropractor, ketika ia mendeteksi gangguan dengan punggung tangan, untuk mengetahui peningkatan suhu di tulang belakang atau mencari di mana tulang belakang yang mengalami subluksasi.
Agar hasil analisis lebih obyektif, alat-alat diagnostik berteknologi tinggi pun kemudian dikembangkan. Meskipun secara basic, masih banyak chiropractor yang tetap memakai cara pemeriksaan panjang kaki dan palpasi tulang belakang untuk menentukan masalah di tulang belakang.
Metode dan hasil diagnosis yang lebih pasti menjadi sasaran para ahli chiropractic. Palmer sendiri – orang yang dianggap paling berperan mengembangkan chiropractic (sejak 1950-an) di antaranya dengan mendirikan The Palmer School of Chiropractic di Florida, Amerika Serikat – ikut mendorong terciptanya alat-alat pendeteksi itu. terciptalah kemudian cikal bakal nervoscope.
Sejak itu, perusahaan-perusahaan yang memproduksi dan memasarkan alat diagnosis chiropractic bermunculan. Mereka juga mengembangkan adjusting instrument dan yang terbaru ditemukan adalah suatu alat yang dapat menganalisa sebelum dan sesudah pengoreksian tulang belakang. Alat ini didasarkan pada adanya perbedaan suhu pada saraf tulang belakang, kemudian menandai level dari saraf-saraf yang mengalami malafungsi.
Kemajuan sektor teknologi informasi (termasuk komputer) dan kebutuhan akan alat diagnosis yang sahih, membuat makin lama alat yang diciptakan kian praktis dan akurat. Kebutuhan yang pada akhirnya bermuara pada munculnya thermal scan, yang kini sudah digunakan di seluruh dunia dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan.
Dalam praktiknya, thermal scan tidak hanya digunakan oleh chiropractor, banyak praktisi medik lain yang menggunakannya sebagai alat untuk sebelum dan sesudah treatment. Apalagi penggunaan thermal scan dapat juga digabungkan dengan pengukuran surface EMG, inclinometer, sehingga selain mengetahui suhu saraf tulang belakang, juga dapat mendeteksi aktivitas otot-otot sekitar tulang belakang.
Kita tunggu saja, ke depan, apa lagi yang bisa dilakukan thermal scan di punggung (dan sekitarnya) kita.

Boks:
Antara Ukuran Kompak dan Komputerisasi

Nervoscope
– Mengukur perbedaan temperatur saraf tulang belakang secara analog
– Tidak dapat dihubungkan dengan komputer, sehingga hasil pegukuran tidak dapat dicetak di atas kertas
– Alatnya lebih kecil dan kompak.

Thermal Scan
– Mengukur perbedaan temperatur saraf tulang belakang dengan memanfaatkan sistem komputerisasi dan digital
– Hasil pengkuran dapat dicetak, sehingga bisa disimpan.
– Harus dihubungkan dengan komputer.

Powered by ScribeFire.

Written by wijoseno

August 2, 2007 at 7:08 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: