Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Kamera

with 3 comments

Hari ini, pagi-pagi jam 4 sudah bangun. Terus enggak bisa tidur lagi. Iseng beres-beresin lemari. Ngecek kondisi kamera analog alias yang masih pakai film. Syukur kondisinya bersih dan sehat semua. Cuma ada satu kamera yang baterainya habis. Mumpung ingat, baterainya dicopot sekalian biar enggak ngerusak dalemnya bodi kamera kalau baterainya bocor.

Lho? Kameranya ada berapa sih? Emangnya kolektor? Ya, jelas bukan! Ada satu kamera Nikon FM 10, ini kamera pertama yang dimiliki waktu masih kuliah (sampai sekarang). Dibelikan bapak. Dengan kamera ini saya belajar motret. Itu pun belajar secara amatiran aja. Dari motret benda bergerak, benda diam, termasuk barang dagangan (kerajinan tangan, pas photo, pengantenan teman, sampai motret sewaktu mbah kakung Cokro meninggal. Hasilnya gambarnya, ya sekadarnya.

Setelah selesai kuliah…

(Kuliahnya enggak ada hubungannya sama motret, lho. FKIP jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Sanata Dharma Yogyakarta, jelas bukan ngajari motret, kan?)

Pinginnya masih kuliah lagi. Waktu itu pingin njajal masuk ISI sekolahannya para seniman katanya. Mau ambil jurusan musik pertunjukan. (yang ini ceritanya nanti aja, deh…)

Masih ngomongin soal kamera, nih…

Pokoknya, waktu itu masih nganggur. Dari hasil nabung jualan kerajinan dan kerja serabutan lainnya, saya ambil kursus fotografi jurnalistik di Antara. Saya ambil yang kursus bukan program semesteran. Karena uangnya waktu itu enggak cukup. Kenapa enggak minta dukungan? Ah, ceritanya mau mandiri…

Oya, sebelum kursus fotografi jurnalistik ini, saya sempat belajar cuci cetak foto hitam putih dari tukang foto. Sebut aja namanya Koh Amen. Dia ini tukang foto sudah sejak jaman saya masih kecil. Foto ijasah TK sampai SMAsaya, dia yang motret dan cetak fotonya. Sekarang umur saya 34 tahun. Kios foto Koh Amen masih buka sampai sekarang di Kampung Ambon, Jakarta Timur.

Waktu belajar cuci cetak fotonya, sih enggak disengaja gitu. Waktu itu saya masih luntang-lantung. Sambil nunggu panggilan kerjaan, saya menghabiskan waktu kongkow di kios foto Koh Amen ini. Saya diberi ilmu fotografi hitam putih pas photo berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun. Padahal ilmu ini, sumber penghidupannya sampai sekarang. Saya sendiri enggak tahu kenapa, saya dikasih tahu begitu aja dan gratis. Yang membuat terharu, selama kongkow di kiosnya ini saya dibelikan nasi Padang untuk makan siang. “Sudah makan aja. Enggak usah malu, enggak usah dipikir,”begitu katanya. Kurang lebih sebulan saya kongkow di kios ini.

Enggak kongkow lagi, karena ada panggilan <i>freelance</i> di Litbang KOMPAS. Kerjanya, mengkoding dan menghitung hasil survei pembaca KOMPAS. Kerjaannya bosen. Tapi duitnya seneng, he..he..he..

Nah, upahnya ini buat kursus fotografi jurnalistik plus sokongan dari gaji pacarku. (Waktu itu pacarku yang sekarang jadi istriku ini sudah bekerja lebih dulu.)

Selama belajar fotografi jurnalistik di Antara alirannya hitam putih. Wah, pas bener. Aku sudah tahu duluan. Karena cuci cetak film dan foto hitam putih semuanya masih manual. Terima kasih, Koh Amen!

Ijasah fotografi jurnalistik jadi modal saya buat ngelamar jadi wartawan di KOMPAS. Kurang lebih dua tahun saya ngelamar terus. Dipanggil tes juga, tetapi ya gagal terus juga. Pastinya saya enggak hapal berapa kali ikut tes dan berapa kali gagal. Pokoknya banyak, dah. Akhirnya, saya diterima juga di Gramedia Majalah jadi wartawan Tabloid Citra.

Sudah selesai ngomongin kameranya? Belum!

Di Tabloid Citra enggak sampai setahun. Dipecat! Untungnya masih bisa dapet kerjaan lagi. Masih wartawan juga. Di Majalah SERU!

Mulai bisa nabung, deh. Kepingin beli kamera. Pilihan jatuh ke Nikon F3 HP. Kameranya jadul banget dan berat. Tapi saya bangga banget bawa kamera ini. Enggak cuma kamera, saya juga beli Enlarger dan segala perlengkapan untuk cuci cetak foto hitam putih.

Terus kamera digital datang…

Menawarkan kemudahan dan serba instan.

Kepingin lagi beli kamera yang digital. Sekarang sudah enggak di Majalah SERU! lagi, soalnya udah tutup. Lantas, saya “dilimpahkan” ke majalah Intisari. Singkat cerita, setelah cukup uangnya, kebeli kamera KODAK Z740. Senengnya jeprat-jepret pakai kamera digital. Enggak pakai film dan cuci cetak foto segala. Kurang puas dan enggak pede, beli lagi kamera digital Nikon D80 Kit. Cuma, kok ya masih segitu-gitu aja hasil jepretannya. Masih perlu terus belajar dan belajar lagi…

Kepinginan enggak ada habisnya, ya…

Waktu itu…

Istri saya sedang ke sebuah mal, kebetulan lihat pinhole camera. Saya minta dibelikan juga. Sekarang punya pinhole camera, deh

alias kamera lubang jarum. Tetapi sayangnya belum saya coba kamera ini.

101_8563

Nah, hari ini sepertinya “rasa haus” saya bermain dengan kamera muncul lagi. Pinhole camera yang masih dalam kotak pembungkusnya saya rangkai.

Apakah ini pertanda saatnya saya belajar memotret lagi?

Written by wijoseno

July 1, 2008 at 9:39 pm

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah,kalo boleh tau beli kamera pinhole nya di mall mana yaa??
    makasih..ditunggu balasannya

    danan

    August 10, 2008 at 2:31 am

  2. Sama om, pengen tau juga beli dimana sama berapa harganya? Tolong kabarin ya… Oh iya, ajarin juga dong cara proses film bw nya

    Hendy

    August 10, 2009 at 8:02 pm

  3. wah harganya lupa…
    di Kidstation ada

    proses BW banyak kok di internet…

    wijoseno

    August 13, 2009 at 10:30 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: