Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Kebun Organis

leave a comment »

Foto ini diambil di kebun organis Rm. Agatho, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Konsep kebun di sini rupanya tidak selalu tanah ladang, kebun, atau sawah.

Hunian bertingkat juga bisa dijadikan lahan pertanian. Kalau mau…

soal cerita tentang kebun organisnya nanti saja ya…

Masih dikumpulkan bahan-bahan hasil wawancaranya. he..he..he..

Mari, Bertani Selaras Alam

Oleh: A. Bimo Wijoseno

Yang namanya bercocok tanam organis tidak sekadar tanpa pupuk kimia dan insektisida kimia buatan pabrik. Tetapi juga menyangkut sikap dan pandangan hidup terhadap alam yang memberi kehidupan.

===
O ya, sebelum jauh membahas soal ini, ada baiknya meluruskan dulu istilahnya. Menurut Romo Agatho Elsener, OFM Cap, “Yang benar organis, bukan organik.” Jadi, pertanian organis, bukan pertanian organik.

Menurut Pastur berjenggot putih panjang ini, organis menggambarkan satu unit atau kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang semua teratur, terarah pada kepentingan bersama, yakni harmoni. Dengan begitu, pertanian organis sesungguhnya tidak sekadar tanpa pupuk kimia dan pestisida buatan. Juga bukan soal sertifikasi produk organis yang sekarang juga marak. Pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta.

Alam yang memberi

Ramainya isu pemanasan global akhir-akhir ini mengingatkan kita kembali untuk mencintai alam semesta. Sadar ataupun tidak, selama bertahun-tahun dengan alasan modernisasi kita telah mengeksploitasi alam sekaligus merusaknya. Termasuk modernisasi di bidang pertanian yang juga ikut menyumbang kerusakan alam semesta ini. Pertanian modern yang monokultur (satu jenis tanaman) menggenjot alam agar cepat membuahkan hasil.

Rekayasa genetika juga memunculkan jenis tanaman baru yang serba super. Seperti superbesar, supercepat, dan termasuk superrakus menyerap nutrisi di dalam tanah. Untuk itu, perlu asupan pupuk buatan. Alam, khususnya tanah akhirnya menjadi rusak, keseimbangan unsur haranya berantakan karena digempur pupuk kimia. Residu pupuk kimia yang berlebihan membuat tanah tidak bisa ditanami lagi. Efek secara berantai, akhirnya berakibat keseimbangan alam secara keseluruhan juga terganggu.
Sudah saatnya kita sadar untuk mengembalikan kondisi alam yang sudah mulai rusak ini. Salah satu cara adalah meniru pertanian yang dijalankan oleh Romo Agatho. Ia menganalogikan konsep pertanian organis sebagai tubuh manusia. Organisme alam terdiri atas binatang, tumbuhan, hutan, manusia, dan makhluk hidup lainnya. Semua bisa hidup karena dukungan semua organnya, dan setiap organ bertujuan hanya satu, yakni melayani organisasinya. Kalau organ melayani dengan baik, organisme pasti sehat.

Nah, pertanian organis merupakan kerjasama dan harmoni dari unsur-unsur kehidupan, seperti iklim, binatang, dan tumbuhan. Tak heran pertanian organis menjadi murah karena terwujud dari “saling melayani” setiap unsur kehidupan. Ambil contoh ketika peternakan dan pertanian berjalan bersama sebagai satu kesatuan usaha. Peternakan sapi menghasilkan kotoran untuk pupuk sayuran, kemudian dari sisa hasil panen sayuran bisa menjadi bahan makanan untuk sapi.

Akan tetapi, saat ini keadaannya lain. Masalah terbesar di dunia sekarang adalah manusia ingin serba cepat. Padahal menurut hukum alam semua itu perlu waktu. Misalnya sehektar sawah secara alamiah akan menghasilkan gabah 1 ton dalam waktu setahun. Namun, manusia maunya seton gabah tadi diperoleh dalam waktu separonya. Segala upaya dikerahkan demi ambisi tadi, meski harus mengorbankan sang alam. Begitulah esensi dari pertanian modern. Alam direkayasa untuk memenuhi keinginan manusia.

Pertanian organis berlawanan dengan pertanian modern. “Intensifikasi pertanian sebagai pengembangan dari revolusi hijau pada praktiknya adalah memperlakukan alam dengan keserakahan. Akibatnya usaha tani menjadi rentan hama dan pergantian iklim,” ujar Agatho. Apalagi pertanian modern semua beracun, bagaimana bisa sehat? Kalau demi alasan untuk kebutuhan manusia karena makan untuk hidup, apakah nanti bukannya sama saja mempercepat kematian manusia itu sendiri? Karena makanan yang beracun lama-lama akan membunuh manusia juga.

Toh Romo Agatho mengakui bahwa pertanian organis pun memiliki kelemahan. Hasil pertanian organis kelihatan sedikit. Namun sedikitnya hasil ini mungkin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia saat itu. Sifat serakah manusia malah bisa menghancurkan diri sendiri. Pertanian organis berlawanan dengan sikap egois. “Alam itu sesungguhnya menurut, namun manusia yang tidak menurut. Kita sebagai manusia pun sebenarnya tidak banyak tahu, justru alam yang lebih tahu. Dan, alam yang memberi,” ujar Agatho.

Hujan yang mengganggu
Romo Agatho sudah sejak tahun 1984 merintis pertanian organis di Tugu Selatan, Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Bersama 20 orang insinyur ia mendirikan Pusat Pengembangan Organis, yang kegiatannya melakukan penelitian, percobaan mengenai cocok tanam organis, dan melakukan pelatihan kepada semua orang yang ingin menjadi seorang organis. Bagi pastur kelahiran Scwyz, Swiss 75 tahun yang lalu ini, setiap orang bisa menjadi organis, tak hanya seorang petani. Diharapkan setiap orang harus memiliki sikap dan pandangan hidup untuk “saling melayani” termasuk terhadap alam yang memberi kehidupan.

Tahun 1992 Romo Agatho mulai mengembangkan “gedung organis”. Ini merupakan sebuah gedung bertingkat tiga dengan arsitektur khas. Atapnya dibuat transparan agar sinar matahari leluasa masuk ke dalam gedung. Di lain pihak, atap berfungsi sebagai penahan titik-titik air saat hujan turun. Asal tahu saja, “Hampir semua tanaman sayuran tidak suka hujan,” ujar Sudaryanto, insinyur pertanian yang merupakan tangan kanan Romo Agatho.

Luas gedung ini kurang lebih 800 m2. Tak hanya digunakan sebagai lahan pertanian, gedung organis ini berfungsi pula sebagai kantor dan tempat tinggal karyawan. Dengan begitu, tak selalu pembangunan gedung atau rumah akan mengurangi lahan pertanian. Yang ada justru menambah lahan pertanian. Untuk mendukung lahan pertaniannya, gedung ini mampu menyediakan air sebanyak 10 ton kubik yang ditampung di dalam bak  penampungan.

Lahan pertanian di gedung organis berbentuk petak-petak persegi panjang yang dindingnya terbuat dari beton. Tingginya kurang lebih 35 cm. Ada yang dibuat secara bertingkat. Di dalam petak-petak ini kemudian diisi tanah dan humus sebagai lahan bercocok tanam. Sistem tanamnya dibuat pola tanam yang berganti-ganti. Tanaman yang dipilih adalah tanaman sayuran yang dapat dipanen kurang dari sebulan. Jadi, setiap bulan bisa memanen sayuran. Namun setiap petak tidak terus-menerus ditanami. Ada masa jeda tanam untuk pemulihan nutrisi tanah. Plus penambahan pupuk alami.

Menurut Sudaryanto, nilai produktivitas pertanian “gedung organis” ini lebih tinggi dibandingkan di ladang atau tanah terbuka. Soalnya, bertani di gedung ini lebih optimal. Sinar matahari cukup baik kecuali di musim hujan. Saat musim hujan tanaman sayuran tidak cepat rusak karena terlindung oleh atap gedung. Serangan hama relatif kecil hampir tidak ada hama. Untuk media tanam hanya dibutuhkan tanah setinggi 35 cm. Tidak perlu diganti-ganti. Untuk menjaga kesuburan tanah, tanaman cukup digilir. Juga sedikit sekali sampah di lahan pertanian seperti ini. Jika ingin menambah lahan tanaman bisa dibuat bertingkat.

Ada sekitar 60 jenis sayur yang dibudidayakan di Pusat Pengembangan Organis ini, dan masih terus dikembangkan. Dari brokoli, caisim, kapri, sampai terung. Setiap minggu ada 9.000 – 11.000 bibit bermacam jenis sayuran ditanam di lahan terbuka seluas enam hektar, termasuk di “gedung organis”. Hasilnya, panen sayuran bisa dilakukan setiap empat kali seminggu. Jenis sayuran yang paling bagus produksinya di sini adalah wortel, karena paling cocok kondisi alamnya. Termasuk sayuran bayam dan pakcoy.

Pertanian organis ala Romo Agatho ini menghadapi kendala yang berarti ketika tiba musim hujan. Saat musim hujan, proses fotosintesa terganggu karena tidak adanya sinar matahari. Daun pun menjadi rusak akibat guyuran air hujan. Sedangkan musim kemarau yang menjadi kendala adalah serangan dari serangga. Namun solusinya sudah ditemukan, yakni insektisida alami yang dibuat dari berbagai ramuan tanaman yang tidak disukai serangga.

Written by wijoseno

July 1, 2008 at 7:25 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: