Asal Omong, Ya?!

Yang bener, nih?

Romo Agatho

leave a comment »

<b>Yang benar organis</b>

Bercocok tanam secara organis tidak hanya sekedar tanpa pupuk kimia dan insektisida kimia buatan pabrik. Tetapi menyangkut sikap dan pandangan hidup terhadap alam yang memberi kehidupan.

===

Ramainya isu global warming akhir-akhir ini mengingatkan kita kembali untuk mencintai alam semesta. Sadar ataupun tidak selama bertahun-tahun dengan alasan modernisasi, kita telah mengeksploitasi alam sekaligus merusaknya. Termasuk modernisasi di bidang pertanian yang juga ikut menyumbang kerusakan alam semesta ini. Pertanian modern yang monokultur (satu jenis tanaman) menggenjot alam agar cepat membuahkan hasil. Rekayasa genetika juga memunculkan jenis tanaman baru yang serba super. Seperti super besar, super cepat, dan termasuk super rakus menyerap nutrisi di dalam tanah. Sehingga perlu diberi asupan pupuk buatan. Alam, khususnya tanah akhirnya menjadi rusak, keseimbangan unsur haranya berantakan karena digempur pupuk kimia. Residu pupuk kimia yang berlebihan membuat tanah tidak bisa ditanami lagi. Efek secara berantai, akhirnya berakibat keseimbangan alam secara keseluruhan juga terganggu.

Saatnya dibutuhkan kesadaran untuk mengembalikan kondisi alam yang sudah mulai rusak ini. Seperti apa pola pertanian yang dilakukan Romo Agatho Elsener OFM Cap. ini? Sebelumnya pastur yang berjenggot putih panjang ini menjelaskan bahwa, ”yang benar organis, bukan organik,” ujarnya. Menurutnya, organis adalah menggambarkan satu unit atau kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang semua teratur, terarah pada kepentingan bersama, yakni harmoni. Sehingga sesungguhnya pertanian organis tidak hanya sekedar tidak mengandung pupuk bahan kimia dan pestisida buatan pabrik. Bukan juga soal sertifikasi produk organik yang sekarang juga marak. Pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta.

Romo Agatho menganalogikan konsep pertanian organis sebagai tubuh manusia. Organisme alam terdiri atas binatang, tumbuhan, hutan, manusia, dan makhluk hidup lainnya. Semua bisa hidup karena dukungan semua organnya, dan setiap organ bertujuan hanya satu, yakni melayani organisasinya. Kalau organ melayani dengan baik, organisme pasti sehat.

Sesungguhnya pertanian organis merupakan kerjasama dan harmoni dari unsur-unsur kehidupan, seperti iklim, binatang, dan tumbuhan. Tak heran pertanian organis menjadi berbiaya murah. Karena terwujud dari “saling melayani” setiap unsur kehidupan. Ambil contoh ketika peternakan dan pertanian berjalan bersama sebagai satu kesatuan usaha. Peternakan sapi menghasilkan kotoran untuk pupuk sayuran, kemudian dari sisa hasil panen sayuran bisa menjadi bahan makanan untuk sapi.

<b>Melawan pertanian modern</b>

Tetapi saat ini keadaannya lain. Masalah terbesar di dunia sekarang adalah manusia ingin serba cepat, gampang, dan instan. Padahal alam sama sekali lain. Menurut hukum alam semua itu perlu waktu. Contohnya saja dari padi menjadi nasi pun perlu waktu. Namun, manusia maunya cepat saja sedangkan alam tidak.

Pertanian organis berlawanan dengan pertanian modern. ”Intensifikasi pertanian sebagai pengembangan dari revolusi hijau pada praktiknya adalah memperlakukan alam dengan keserakahan, akibatnya usaha tani menjadi rentan hama dan pergantian iklim,” ujar Agatho. Apalagi pertanian moderen semua beracun, bagaimana bisa sehat? Kalau demi alasan untuk kebutuhan manusia karena makan untuk hidup, apakah nanti bukannya sama saja mempercepat kematian manusia itu sendiri? Karena makanan yang beracun lama-lama akan membunuh manusia juga.

Romo Agatho mengakui kalau hasil pertanian organis kelihatan sedikit. Tetapi hasil yang sedikit itu mungkin sudah cukup. Karena sesuai dengan kebutuhan manusia saat itu. Sebab hukum alam memang begitu. Karena alam pada dasarnya saling melayani. Tetapi jika manusia yang ada di dalamnya mau enaknya sendiri, justru akan menghancurkan diri sendiri. Sebab pertanian organis berlawanan dengan sikap egois. “Alam itu sesungguhnya menurut, namun manusia yang tidak menurut. Kita sebagai manusia pun sebenarnya tidak banyak tahu, justru alam yang lebih tahu. Dan, alam yang memberi” ujar Agatho.

Menyaksikan petak-petak lahan pertanian dengan berbagai jenis sayuran organis di sini, terkesan tanaman kurang besar dan gemuk. Terlihat kurus, ada yang sedikit layu, berkesan kurang pupuk. ”Kesan tanaman organis memang begini. Berbeda dengan sayuran yang dipupuk dengan pupuk dan insektisida buatan pabrik,” kata Sudaryanto, seorang insinyur pertanian, tangan kanan romo Agatho.

Gedung yang organis

Pusat Pengembangan Organis di Tugu Selatan, Cisarua, Bogor, Jawa Barat ini dirintis oleh romo Agatho sejak tahun 1984 bersama 20 orang insinyur. Mereka tak hanya melakukan penelitian, percobaan mengenai cocok tanam organis, tetapi juga melakukan pelatihan kepada semua orang yang ingin menjadi seorang organis. Bagi pastur kelahiran Scwyz, Swiss 75 tahun yang lalu ini, setiap orang bisa menjadi organis, tak hanya seorang petani. Diharapkan setiap orang harus memiliki sikap dan pandangan hidup untuk “saling melayani” termasuk terhadap alam yang memberi kehidupan.

Di tahun 1992 romo Agatho mulai mengembangkan “gedung organis”. Sebuah gedung bertingkat tiga berarsitektur khas, dengan atap yang transparan. Atap yang transparan ini untuk membiarkan sinar matahari bebas masuk. Juga berfungsi untuk menahan air hujan, supaya tidak menghancurkan tanaman.

Luas gedung kurang lebih 800 meter persegi. Berfungsi sebagai kantor, tempat tinggal karyawan, juga lahan pertanian. Semangatnya adalah tidak selalu membangun gedung atau bangunan rumah akan mengurangi lahan pertanian. Tetapi justru bisa menambah lahan pertanian. Gedung ini saja bisa menampung air sebesar 10 ton kubik air. Ditampung di dalam bak penampungan. Yang kemudian air ini digunakan untuk pengairan. Lahan pertanian di gedung ini berbentuk petak-petak persegi panjang yang dindingnya terbuat dari beton. Tingginya kurang lebih 35 cm. Ada yang dibuat secara bertingkat. Yang kemudian di dalam petak-petak ini diisi tanah dan humus.

Rumah organis karya romo Agatho ini setiap bulan bisa memanen sayuran. Sistem tanamnya dibuat pola tanam yang berganti-ganti. Kemudian dipilih umur sayuran yang umurnya kurang lebih satu bulan panen. Sehingga setahun bisa 12 kali panen. Dan, setiap petak tidak terus menerus ditanami, ada masa tidak ditanami sama sekali untuk pemulihan nutrisi tanah. Plus penambahan pupuk alami.

Menurut Sudaryanto, dengan bertani di “gedung organis” ini nilai produktivitasnya justru lebih tinggi dibandingkan bertani di ladang atau tanah terbuka. Karena bertani di gedung ini bisa optimal. Sinar matahari cukup baik kecuali di musim hujan. Saat musim hujan tanaman sayuran tidak cepat rusak. Karena curahan air hujan ditahan atap dan tidak langsung merusak daun. “Hampir semua tanaman sayuran tidak suka hujan,” ujarnya. Serangan hama relatif kecil hampir tidak ada hama. Untuk media tanam dibutuhkan tanah hanya setinggi 35 cm. Tidak perlu diganti-ganti. Untuk menjaga kesuburan tanah, tanaman cukup digilir. Juga sedikit sekali sampah di lahan pertanian seperti ini. Jika ingin menambah lahan tanaman bisa dibuat bertingkat.

Di sini kurang lebih ada 30 jenis sayuran yang dibudidayakan dan masih terus dikembangkan. Dari brokoli, caisim, kapri, sampai terung. Paling tidak setiap minggu ada 7000-8000 bibit bermacam jenis sayuran ditanam di lahan terbuka seluas 6 hektar, termasuk di “gedung organis”. Hasilnya, panen sayuran bisa dilakukan setiap bulan. Jenis sayuran yang paling bagus produksinya di sini adalah wortel, karena paling cocok kondisi alamnya. Termasuk sayuran bayam, dan pakcoy.

Pertanian organis ala romo Agatho ini menghadapi kendala yang berarti ketika tiba musim hujan. Saat musim hujan, tidak ada sinar matahari, proses fotosintesa menjadi lama, daun pun rusak karena guyuran air hujan. Sehingga produksi turun di musim hujan. Sedangkan saat kemarau, biasanya serangan dari serangga. Tetapi bisa dihalau dengan insektisida alami. Dari berbagai ramuan tanaman yang tidak disukai serangga.

Ya, namanya saja hukum alam. Dan, alam maunya begitu…

Written by wijoseno

September 22, 2008 at 6:07 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: